Wednesday, March 27, 2013

Analisis Sajak "TERATAI"


 
Deskripsi Pengarang
            Lahir di Muara Sipongi, Tapanuli. Pendidikan MULO di Padang dan Jakarta, kemudian menjadi guru H.I.K di Bandung. Tahun 1928 ke India mempelajari kebudayaan Hindu. Sekembalinya dari India memimpin "Timbul" (dalam bahasa Belanda), kemudian memasuki Perguruan Rakyat dan jurnalistik. Pernah juga bekerja di Balai Pustaka sebagai kepala pengarang. Ada tiga pengaruh yang ditunjukkannya, yakni pengaruh Barat, India dan Jawa.
Pengaruh Barat nampak dalam sajak-sajaknya Puspa Mega yang mengambil bentuk soneta. Dalam sajak-sajak di Pancaran kerajaan kuno Jawa. Ketiga pengaruh tersebut bersatu padu dalam pribadinya, hanya kadang-kadang menonjol salah satu unsurnya apabila lingkungan sekitar membuatnya demikian.
             Sanusi Pane dikatakan oleh Amir Hamzah sebagai pujangga yang menguasai bahasa Indonesia sampai keurat-uratnya. Dalam sajak-sajaknya, Sanusi Pane memang tidak memainkan "kata-kata nan indah". Ia lebih suka kesederhanaan dalam bahasa. Kata-kata yang dipakai adalah kata-kata sehari-hari, bahkan kata-kata dari bahasa Belanda (misalnya: masinis). Kesederhanaan bahasa puisinya ini menunjukkan kematangan dan keahliannya sebagai ahli bahasa. Sanusi Pane terkenal sebagai penyair dan penulis drama. Umumnya ia dianggap bersifat Hinduistis dan cenderungmistik. Perhatiannya terhadap kebudayaan Hindu Indonesia amat dalam. Hal ini tercermin dalam beberapa sajak dan dramanya. Beberapa karyanya: Pancaran Cinta (prosa liris, 1926), Puspa Mega (kumpulan sajak, 1927), Madah Kelana (kumpulan sajak, 1931), Kertajaya (drama, 1932), Sandhyakala Ning Majapahit (drama, 1933), Manusia Baru (drama, 1940), Airlangga (drama dalam bahasa Belanda, 1928), Eanzme Garudavlucht (Terbang Garuda Sendirian, drama Sendirian, drama bahasa Belanda, 1930), Arjuna Wiwaha (terjemahan sastra Kawi, 1948), Bunga Rampai Hikayat Lama (1946), Sejarah Indonesia (1942), Indonesia Sepanjang Masa (1952).

3.2 Sajak Teratai
TERATAI
Kepada Ki Hajar Dewantoro

Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu.

Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun berseri Laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia.

Teruslah, O Teratai Bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biar sedikit penjaga taman.

Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat
Engkau pun turut menjaga zaman.

(Sanusi Pane)

3.3   Analisis Data
3.3.1 Analisis Metode Puisi
1.        Diksi
       Dalam sajak teratai,  pengarang menggunakan pilihan dan penggunaan kata yang begitu menarik. Dalam sajak teratai terdapat beberapa diksi yang digunakan. Perhatikan penggalan sajak Teratai dibawah ini.
Teratai
…………………
Tidak terlihat orang yang lalu
…………………
Daun berseri Laksmi mengarang
…………………..
Seroja kembang gemilang mulia
………………….
Biarpun engkau tidak diminat
Engkaupun turut menjaga zaman
…………………(Sanusi Pane)
1.      Kenapa penyair mengambil judul yang digunakan  adalah Teratai. Teratai disini di upamakan penyair sebagai Ki Hadjar Dewantara, karena sajak ini ditujukan kepada Ki Hajar Dewantara. Kenapa penyair tidak mengumpamakannya dengan bunga lain, seperti mawar atau melati?
2.      Kenapa penyair menggunkan frase orang yang lalu bukan orang yang melintas atau orang yang melewatinya yang artinya relatif sama?
3.      Kenapa penyair menggunakan kata berseri untuk sebuah daun, bukan kata lain yang lebih lazim misalnya menghijau?
4.      Kenapa penyair menggunakan kata Laksmi untuk perumpamaan nama orang, kenapa tidak menggunakan nama lain?
5.      Kenapa penyair menggunakan konstruksi seroja kembang bukan kembang seroja.
6.      Kenapa penyair menggunakan kata diminat ? Kenapa tidak menggunakan kata disukai.
7.      Kenapa penyair menggunakan kata menjaga zaman untuk sebuah bunga? Kenapa tidak menggunakan kata lain yang lebih lazim seperti menghiasi alam.
2.        Kata Nyata (Conkreet Word)
            Dalam membuat sebuah sajak seorang penyair berupaya menumbuhkan pembayangan para penikmat sajaknya melalui diksi-diksi yang dipilihnya. Begitu juga dengan sajak “Teratai” karya Sanusi Pane. Dalam sajak tersebut pada umumnya setiap kata yang digunakan pada tiap-tiap larik dapat dipahami, artinya dapat menimbulkan pembayangan yang lengkap tentang sesuatu. Penyair banyak menggunakan kata-kata nyata yang dapat dipahami pembaca. Tetapi selain itu, ada juga kata yang sulit menimbulkan pembayangan bagi pembaca atau disebut Blank Word .
Perhatikan penggalan sajak Teratai dibawah ini.
………………………..
Daun berseri Laksmi mengarang
………………………..
                        Bagi sebagian orang kata Laksmi mungkin merupakan blank word , karena tidak semua orang tahu apa makna kata Laksmi dalam sajak tersebut. Karena penulisan kata Laksmi tersebut menggunakan huruf kapital pada awal katanya, maka mungkin saja si pembaca hanya menafsirkan bahwa Laksmi tersebut nama seorang wanita tanpa tahu maksud pengarang kenapa menggunakan nama tersebut.
3.        Majas (Gaya Bahasa)
            Majas merupakan pengungkapan bahasa yang diungkapkan penyair secara tersirat. Dalam sebuah gaya bahasa penyair menggunakan bahasa kiasan yang berarti wujud bahasa yang tidak menyatakan arti sebenarnya.
Perhatikan larik-larik sajak yang mengandung majas dalam sajak teratai dibawah ini.

Dalam kebun di tanah airku
……………………..
Akarnya tumbuh dihati dunia
Daun berseri Laksmi mengarang
………………………
Berseri di kebun Indonesia
……………………….
Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat
…………………..............

1.        Pada larik kebun di tanah airku  dan di kebun Indonesia mengandung majas sinekdoke karena kata kebun tersebut menyatakan sebagian untuk keseluruhan yakni pars pro toto yang berarti kata kebun mewakili seluruh tanah air Indonesia.
2.        Pada larik akarnya tumbuh dihati dunia, daun berseri Laksmi mengarang dan berseri di kebun Indonesia mengandung majas personifikasi, karena pada larik-larik tersebut menggambarkan benda mati seolah-olah sama dengan manusia, seperti dunia yang mempunyai hati dan bunga teratai yang dapat berseri.
3.        Secara keseluruhan sajak “Teratai” karya Sanusi Pane boleh dikatakan sebagai alegori, karena kisah bunga teratai itu digunakan untuk mengisahkan tokoh pendidikan. Kisah tokoh pendidikan yang dilukiskan sebagai teratai itu digunakan untuk memberikan nasihat kepada generasi muda agar mencontoh teladan “teratai”, yang hidup di air berlumpur tetapi warna bunganya tetap cemerlang. Ki Hadjar Dewantara dibandingkan dengan bunga teratai yang tidak menonjolkan diri namun namanya termasyur di seluruh penjuru dunia.
4.        Dalam larik Biarpun engkau tidak dilihat Biarpun engkau tidak diminat termasuk kedalam majas repetisi, karena terdapat pengulangan kata yang sama pada larik pertama dan kedua.
4.        Imajeri/Pembayangan/Citraan
              Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair. Bersama unsur diksi, kata nyata, majas dan citraan merupakan komponen kunci dalam upaya mengapresiasi karya sastra puisi. Dalam sajak Terataipun penyair berusaha menggunakan citraan agar pembaca ikut terlibat atau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh penyair.
       Perhatikan penggalan sajak dibawah ini.
       …………………………..
       Tersembunyi kembang indah permai
       Tidak terlihat orang yang lalu
       …………………………..
       Biarpun engkau tidak dilihat
       …………………………...
Larik-larik diatas dapat masukkan ke dalam citra penglihatan.
5.        Versifikasi
            Unsur versifikasi mencakup kajian tentang tentang rima (persanjakan), ritme (irama) dan meutrum. Irama dalam kajian puisi erat kaitannya dengan persanjakan yang digunakan. Adapun dalam sajak Teratai kita bisa melihat rima yang digunakan.
Perhatikan rima yang terdapat dalam sajak Teratai dibawah ini.

Teratai
Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu

Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun berseri Laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia
………………………………
Dalam bait diatas termasuk kedalam rima berpeluk, yakni persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dan larik keempat, larik kedua dengan larik ketiga (ab-ba).
6.        Tipografi (tata grafis)
       Bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. Hal ini dimaksudkan bahwa dalam pembuatan sebuah puisi penyair memperhatikan EYD atau tidak.
            TERATAI
Kepada Ki Hajar Dewantoro

Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu.

Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun berseri Laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia.

Teruslah, O Teratai Bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biar sedikit penjaga taman.

Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat
Engkau pun turut menjaga zaman.

(Sanusi Pane)
Adapun tipografi dalam sajak Teratai diantaranya :
1.      Penempatan alignment left (perataan kiri)
2.      Penggunaan huruf kapital pada huruf awal disetiap larik
3.      Penggunaan huruf kapital pada kata Laksmi yang menunjukan bahwa Laksmi tersebut merupakan nama orang dan juga pada kata Indonesia yang menunjukan penggunaan huruf kapital pada sebuah Negara.
4.      Penggunaan huruf kapital pada tiap-tiap awal kata pada lirik”Teruslah, O Teratai Bahagia”yang mungkin penyair mempunyai maksud tertentu terhadap hal tersebut.
5.      Penggunaan tanda titik pada akhir tiap-tiap bait.
6.      Bait pertama dan kedua terdapat 4 larik sedangkan bait ketiga dan keempat 3 larik.

3.3.2        Analisis Hakikat Puisi
1.        Tema atau Sense
            Dalam setiap sajak pasti mengandung tema yang dapat diartikan sebagai suatu pokok permasalahan bagi seorang penyair. Begitu pula dalam sajak Teratai mengandung tema yang diangkat oleh penyair. Sebuah tema mengandung dua unsure, yakni tema umum dan tema khusus. Tema yang terdapat pada sajak Teratai adalah :
§  Tema umum sajak teratai adalah kekaguman.
§  Tema khusus sajak teratai adalah keindahan bunga teratai yang diumpakan sebagai ki Hadjar Dewantara. Teratai yang tumbuh di air yang sangat berlumpur (kotor, coklat) tetapi warna bunganya lebih cemerlang, begitu pula Ki Hadjar Dewantara yang pada awalnya ia berjuang demi pendidikan Indonesia tanpa diketahui oleh semua orang dan pada akhirnya semua orang dapat merasakan hasil dari perjuangannya waktu itu sampai akhir zaman, terutama dalam hal pendidikan di Indonesia.
2.        Feeling atau Rasa
            Feeling atau rasa merupakan sikap penyair terhadap pokok persoalan terhadap puisi. Dalam sajak Teratai sikap atau rasa yang ditunjukan adalah penyair begitu mengagumi sosok Ki Hadjar Dewantara yang berjuang demi pendidikan Indonesia. Ia begitu menyanjungnya, sampai-sampai diumpamakan sebagai bunga teratai. 
3.        Tone atau Nada
            Melalui sajaknya, Sanusi Pane dalam sajak teratai mengajak atau memberi nasihat kepada pembaca untuk meneladani atau mencontoh sifat Ki Hadjar Dewantara. Sifat beliau yang pantang menyerah dan terus berjuang demi pendidikan Indonesia bisa dijadikan teladan oleh para pembaca agar memiliki sifat seperti beliau. Selain itu, penyair juga berusaha untuk membangkitkan semangat nasionalisme pembaca terhadap perjuangan Ki Hadjar Dewantara yang menjadi pelopor pendidikan di Indonesia. 
4.        Amanat/Maksud/Pesan (Intention)
            Setiap membuat sajak, penyair pasti mempunyai amanat, maksud atau tujuan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Unsur amanat ini selalu bersejajar dengan tema. Adapun amanat yang ingin disampaikan penyair dalam sajak teratai adalah sebagai berikut :
1.      Janganlah kita mengabaikan hal-hal yang sama sekali tidak terlihat baik diluarnya karena sesungguhnya hal-hal tersebut dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat besar apabila kita benar-benar bisa memanfaatkannya.
2.      Dalam memperjuangkan sesuatu yang baik kita harus bersungguh-sungguh, janganlah kita mudah menyerah karena kebaikan pasti akan berakhir baik.
3.      Dimanapun kita berada atau dilingkungan apapun kita tidak boleh gampang terpengaruh, tetaplah percaya diri.

1 comment: