Wednesday, February 27, 2013

Cerpen


Maafkan Aku, Kekasihku !!!


Ruangan kelas yang  begitu luas entah kenapa hari ini terasa sempit sekali. Aku tak tahu kenapa sampai berpikiran seperti itu. Dadaku terasa sesak, rasanya sulit untuk bernafas. Aku mencoba untuk tetap tenang tapi tetap saja sia-sia. Satu hal yang ada dalam pikiranku sekarang, Ridho. Cowok genius , tampan, putih, berambut agak keriting itu yang membuat aku gelisah. Aku merasa kaku berada dikelas, tak seperti biasanya. Ocehanku tak lagi terdengar. Teman-temanku dari tadi terus bertanya kenapa aku jadi pendiam seperti ini. Aku hanya tersenyum dan menjawab kalau kondisi badanku lagi gak fit.Ridho yang tempat duduknya tak jauh dariku seakan-akan terus memperhatikanku. Aku tak tahu yang aku rasakan ini benar atau hanya suggesti saja, yang pasti aku sangat gelisah.
Aku kembali teringat kejadian sebulan yang lalu pada saat jam istirahat. Seperti biasanya aku dan teman-temanku pergi ke kantin, termasuk salah satunya Ridho. Kami semua memang berteman dekat terutama dalam hal kelompok belajar. Kami beranggotakan enam orang. Gilar, Indra, Tio, Ridho, Dini, dan aku Shindy. Walaupun kami tidak bersahabat dekat dan cuma dekat dalam hal kelompok belajar tapi kami cukup akrab.  Setelah pulang dari kantin kami berenam pergi ke lab biologi untuk menanyakan tugas yang harus dikumpulkan minggu depan kepada Pak Tono guru biologi kami. Kebetulan Pak Tono sedang sibuk membereskan peralatan-peralatan bekas praktek anak-anak kelas X. Melihat kami semua menghampirinya, beliau kemudian meminta bantuan kami. Kami pun membantunya. Kemudian Pak Tono meminta Gilar, Indra, Tio, dan Dini membantunya membawa peralatan-perlatan praktek  yang sudah tidak terpakai ke gudang, sedangkan aku dan Ridho membereskan peralatan di lab. Mereka pun pergi ke gudang tinggal aku dan Ridho yang tetap diam di lab. Setelah semuanya beres, Ridho kemudian menghampiriku.
“Sin, boleh ngomong sesuatu gak?”tanyanya sambil gugup.
            “Iya, ada apa dho? Kalo materi yang kamu tugasin kemarin udah beres kok,tinggal di bahas sama yang lain.”
“Hmmmph...bukan,ini soal kita.”
“Soal kita???”tanyaku bingung.
            “A...aa...aaakku sayang sama kamu Sin!”
“Apa???Kamu ngaco ah. Sejak kapan kamu jadi suka bercanda kaya gini. Biasanya kamu selalu serius, kenapa sekarang jadi ngajak bercanda. Teorema Phytagoras bikin kamu jadi aneh kaya gini ya, kebanyakan gaul sama matematika sih?” kataku sambil tertawa.
“Aku serius Sin, sangat serius malahan. Aku sudah lama suka sama kamu, tapi aku tak punya keberanian untuk mengatakannya. Aku terlalu takut, takut kalau kamu tahu kamu akan menjauh dariku. Baru sekarang aku berani mengatakannya, aku sangat mencintaimu Sin. Aku suka semua yang ada dalam diri kamu. Senyum kamu, mata kamu, kebaikan kamu dan semua hal yang aku tak tahu lagi kata apa yang dapat mendeskripsikannya.”
Aku terdiam mendengar ucapan Ridho. Aku melihat kejujuran dan ketulusan dimatanya. Seluruh aliran darahku terasa berhenti, jantungku berdetak lebih kencang, tanganku terasa dingin. Aku ingat beberapa waktu lalu Tio pernah bilang kepadaku kalau Ridho suka sama aku. Tentu saja aku tidak percaya. Cowok tengil  kaya Tio mana mungkin bicara serius. Lagipula aku tak melihat tanda-tanda kalau Ridho menyukaiku. Perlakuan dia terhadapku sama seperti ke teman-teman yang lain. Dan sekarang aku benar-benar mendengarnya langsung dari Ridho. Apa aku harus percaya? Jujur ada perasaan senang ketika Ridho mengatakan semua itu karena aku memang punya perasaan lebih terhadanya. Tapi aku tak boleh membiarkan perasaan itu tumbuh menjadi besar karena aku punya pacar, Ega. Yah, Ega adalah pacarku.
“Dho, kamu sendiri tahu kan sekarang aku punya pacar. Aku baru jadian tiga hari yang lalu. Aku gak mau merusak kebahagiaan yang baru saja hadir dihidupku, terutama kebahagiaan Ega. Satu hal yang aku sesalkan saat ini, kenapa kamu gak jujur dari awal. Jujur sebelum Ega hadir dalam hidup aku. Jujur dho, akupun punya perasaan yang sama, aku sayang sama kamu. Tapi sekarang semuanya sudah terlambat. Aku punya Ega, aku harus sepenuhnya memberikan perasaan aku buat dia. Sekarang aku sedang berusaha mengubur perasan aku ke kamu. Aku harap kamu ngerti.”
“Iya, aku tahu Sin. Dan aku tak peduli itu. Aku sangat menyayangimu dan aku akan membahagiakanmu. Please, Sin..jangan kubur perasaan itu. Biarkan perasaan itu tumbuh diantara kita. Aku janji cukup kita yang tahu”
Entah setan apa yang merasuki pikiranku sehingga aku menerima cinta Ridho. Ridho mengecup keningku dan memegang tanganku erat. Ada perasaan nyaman ketika aku didekatnya. Yah, aku mencintainya.
Tanpa aku sadari, aku telah menyakiti seseorang yang juga tulus mencintaiku. Aku berlaku tak adil, begitu egoiskah aku? Aku marah pada diriku sendiri. Kenapa aku tak dapat berpikir panjang. Tak seharusnya aku menyakiti Ega. Aku termenung, hatiku berbisik “maafkan aku Ega”.
Setelah kejadian itu hari-hariku merasa tak tenang. Aku terus diliputi rasa bersalah. Ega pun melihat perubahanku. Dia selalu bertanya tentang keadaanku yang menjadi aneh, dan aku tak berani jujur. Aku berusaha sebisa mungkin menutupi kesalahanku dari Ega. Seperti yang aku tau, Ega tak pernah mengeluh dengan perubahanku, dia tetap mencintaiku.
Bel istirahat berbunyi. Teman-teman sekelasku berhamburan keluar, tinggal aku yang diam di kelas. Aku tak merasakan lapar diperutku. Kemudian Ridho menghampiriku.
“Sin, kamu kenapa sich dari tadi kelihatannya gelisah terus?lagi ada masalah?cerita dong! Jelek tau, jangan cemberut terus.”tanya Ridho sambil memegang tanganku.
“Aku akan mengambil keputusan sekarang.”jawabku sambil berusaha melepaskan tangannya dari tanganku.
“Maksudnya???”
“Aku ingin kita akhiri semua ini. Aku gak mau ada kebohongan lagi. Kamu tahu selama ini aku gak pernah tenang menjalani hubungan ini? Ada orang yang tersakiti oleh hubungan kita. Aku gak mau terus menyakiti Ega.”
“Jadi, kita akan meresmikan hubungan kita secara utuh?”Ridho berkata dengan mata yang berbinar-binar.
“Bukan itu maksudku. Aku ingin kita mengakhiri hubungan kita.” sahutku sambil menunduk.
Aku tak berani menatap Ridho. Rasa sayang yang berusaha aku kubur takut tak bisa hilang apabila aku menatap matanya.
“Sin, aku tahu kamu masih sangat mencintaiku. Kenapa kamu membohongi perasaan kamu sendiri, please jangan lakukan ini padaku?”kata Ridho sambil berusaha memegang tanganku kembali.
“Keputusankku sudah bulat. Terlalu picik aku terhadap Ega, dia tak pantas untuk aku sakiti. Aku ingin membahagiakannya. Sekarang aku baru sadar,aku hanya mengagumimu. Kamu terlalu sempurna buat aku. Maafkan aku dho, masih banyak orang di luar sana yang lebih baik dari aku dan tentu bisa membahagiakanmu.”
“Aku tak tahu apakah ada hal yang bisa merubah keputusannmu. Ini mimpi, aku berharap ini hanya mimpi. Tapi  sayangnya ini kenyataan, aku harus bisa menerimanya. Aku mencintaimu, aku ingin melihat kamu bahagia. Jika bukan aku yang bisa membahagiakanmu ,aku rela”jawab Ridho dengan wajah yang seolah menutupi kesedihannya.
“Aku tak akan pernah melupakanmu, kamu akan tetap aku kenang sebagai seseorang yang pernah berarti dalam hidupku dan kuharap ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua”kataku sambil memeluknya.
“Yah...”jawabnya singkat.

            Aku pergi meninggalkan Ridho sendirian dikelas. Aku hendak menghampiri Ega di kelasnya. Akan aku tebus segala kesalahan-kesalahanku padanya. Sebelum aku keluar, aku kembali menatap Ridho.
            “Kamu tetap jadi sahabatku kan??”tanyaku.
“Tentu...”sahut ridho yang tetap berusaha tersenyum.
            Dari kejauhan aku melihat Ega berdiri di depan ruang kelasnya. Aku berlari menghampirinyadanlangsung memeluknya erat, tak peduli orang-orang disekitarku melihat adegan ini. Kubisikan sesuatu ke telinga Ega.
“Maafkan aku. Aku sangat mencintaimu, sayang”.

No comments:

Post a Comment