Wednesday, February 27, 2013

Cerpen

Rasa Yang Tertinggal


“Mah, bendera semaphore Riri mana?”tanyaku buru-buru.
“Koq nanya mamah, minggu kemarin bekas latihan, kamu simpan dimana?coba ingat-ingat lagi.”
“Oh, iya. Aku baru ingat. Benderanya dikumpulin di basecamp pramuka sekolah.”kataku sambil mengingat-ingat.
“Ya udah. Sekarang kamu cepat pergi ke sekolah. Bukannya kamu harus cepat-cepat latihan pramuka?”
            “Iya mah, Riri udah telat nih. Assalamualaikum.”
            Aku bergegas pergi menuju sekolah untuk mengikuti ekskul pramuka. Aku terburu-buru karena sudah terlambat. Setiba di sekolah aku segera pergi ke lapangan menuju teman-temanku yang sudah berkumpul.
            “Tumben Ri telat?”Tanya Tari.
“Iya, tadi nyari-nyari bendera semaphore dulu. Aku lupa kalau benderanya dikumpulin.”jawabku.
            “Nich benderanya Rie!” kata Tari sambil menyodorkan bendera kepadaku.
            Tak lama pembina pramuka pun datang untuk melatih kita semua. Untuk pertemuan sekarang kita semua berlatih semaphore. Akhir-akhir ini aku semakin sibuk dengan kegiatan ekskulku ini karena sebulan lagi akan diadakan Jambore Nasional. Kebetulan, aku dan sembilan teman lainnya menjadi utusan dari sekolah untuk mengikuti jambore nasional. Setelah selesai berlatih, pembina kami akan mengadakan tes kemampuan semaphore secara kelompok. Setiap kelompok dibagi lima orang. Teman-teman kelompokku adalah Tari, Resa, Dhika, dan Yogi. Setelah membagi kelompok, kami pun diberi kesempatan untuk bersiap-siap dengan kelompok masing-masing. Ketika sedang berkumpul dengan kelompok, aku merasa ada yang aneh dari diri Dhika. Dia selalu menghindar setiap ada aku, tetapi aku berusaha biasa-biasa saja terhadap dia.
            Hari demi hari telah dilalui. Setiap bertemu Dhika, selalu saja aku merasa ada yang aneh. Dhika tak seperti biasanya, selalu saja Dhika kelihatan canggung ketika bertemu dengan aku.
            “Ri, ke kantin yuk?” kata Tari pas jam istirahat.
            “Nggak agh, kamu duluan aja, lagi males keluar nih.”jawabku.
            Akupun duduk sendiri di bangkuku. Dari tempat dudukku, aku melihat Roni sedang berbincang-bincang dengan kakak kelaskku. Setahukku dia bernama Juan. Entah kenapa aku sangat suka setiap melihat Juan. Dia begitu tampan. Mungkin itu yang tersirat dipikiranku setiap melihatnya. Juan memang selalu datang ke kelasku setiap jam istirahat. Dia selalu menemui Roni, teman se-gengnya. Ada perasaan suka setiap aku melihatnya. Tapi aku tak berani mengungkapkannya Aku hanya berani menatapnya dari kejauhan. Itulah salah satu alasanku untuk tidak pergi ke kantin. Aku pun selalu berpura-pura berpaling setiap Juan tiba-tiba menoleh kepadaku.  
            Sore harinya aku kembali mengikuti ekskul pramuka. Makin hari jadwal latihanku semakin padat. Setelah pulang latihan tiba-tiba Yogi menghampiriku. Dia menyerahkan sepucuk surat kepadaku dan bilang surat tersebut dari Dhika. Sesampainya dirumah, perlahan kubuka surat itu dan mulai membacanya. Aku terkejut setelah membaca surat itu, ia mengatakan kalau ia menyukaiku, dia mulai jatuh cinta terhadapku. Kemudian, aku membalas surat itu. Aku meminta Dhika agar menunggu jawabanku seminggu lagi. Setelah kejadian itu, Dhika selalu menunjukan perhatiannya setiap hari. Setiap berangkat sekolah dia selalu menjemputku dan mengantarkanku pulang setiap pulang sekolah.
            Seminggu kemudian, ketika jam istirahat, Dhika mengajakku bertemu di taman sekolah. Dhika akan meminta jawaban atas suratnya seminggu yang lalu. Aku pun segera menemui Dhika. Sesampainya di taman aku melihat Dhika sudah menunggu disana dan aku segera menghampirinya. Aku berpikir kalau aku akan menerima Dhika menjadi  pacarku. Aku juga melihat Dhika serius kepadaku. Kembali ku teringat Juan, kakak kelas yang aku sukai. Aku pun merasa cintaku pasti bertepuk sebelah tangan. Tak ada tanda-tanda kalau Juan menyukaiku. Aku tak mau bermimpi terlalu jauh, ada seseorang yang benar-benar mencintaiku sekarang. Kuutarakan perasaanku sekarang.
            “Gimana Rie ?”tanya Dhika dengan penuh harap.
            “Yah, aku mulai mencintaimu!” jawabku.
            Bel tanda istirahat sudah usai pun berbunyi. Kulihat senyum bahagia terukir di wajah Dhika setelah mendengar jawabanku. Aku berharap semoga ini menjadi pilihan terbaik untukku. Bahagia bersama orang yang mencintaiku. Kemudian kami pun segera pergi ke kelas masing-masing. Ketika tiba di pintu kelas, Juan memanggilku. Dia meminta supaya aku untuk menunggunya saat pulang sekolah nanti. Aku menatapnya heran. Ada apa Juan memintaku menunggunya nanti.  Kuanggukan kepalaku tanda setuju.
            Jam pelajaran terakhir pun berakhir. Kembali ku teringat janjiku kepada Juan. Perlahan satu persatu anak-anak di kelas pun pulang tinggal aku sendirian di kelas. Tak lama Juan datang menghampiriku. Dia pun duduk di sebelahku.
            “Ada apa kak, tumben nyuruh nungguin?”tanyaku heran.
            “Ada hal penting yang harus aku omongin”jawabnya gugup.
            “Apa?”kataku
“Aku tak bisa terus begini. Tersiksa menahan sesuatu yang sudah lama aku pendam. Aku mencintaimu Ri. Dari dulu, sejak pertama aku melihatmu. Tak ada keberanian untuk mengungkapkannya. Setiap istirahat aku selalu datang ke kelas ini hanya untuk bisa melihatmu, melihat senyummu ”ungkapnya.
            Perasaan tak karuan kurasakan saat ini. Baru istirahat tadi aku menerima Dhika menjadi pacarku. Sekarang, orang yang selama ini aku sukai menyatakan persaannya. Apa yang harus aku lakukan. Ku lihat dari kejauhan Dhika menuju kelasku. Aku bangkit dari tempat dudukku.
“Orang yang telah mengisi hatiku sudah menjemputku kak” kataku sembari meninggalkannya.
  

No comments:

Post a Comment